01 · 15

Indonesia: Sandals for Justice

Sent from my iPhone


Begin forwarded message:

From: "Alice Jay - Avaaz.org" <avaaz@avaaz.org>
Date: January 16, 2012 3:29:31 AM GMT+07:00
To: 
Subject: Indonesia: Sandals for Justice

***Geser ke bawah untuk edisi Bahasa Indonesia***

Dear friends across Indonesia,


Our police are brutally abusing their power and failing to provide the most basic legal services. But the recent 'sandal case' has provoked massive public outrage and the police are on the back foot. If enough of us raise our voices now we can build the protest and could get critical police reforms. Sign the urgent petition now to President Yudhoyono to rein in the police:
Since police in Palu brutally beat fifteen year-old A.A.L. and threatened him with a 5 year jail sentence in the 'sandal scandal', citizens across the country are standing up against police brutality. If we can ramp up public pressure now we could end this abuse.

This is the latest in a series of recent incidents from Aceh to Bima and from Lampung to Cilacap in which the police have turned against our children and vulnerable citizens and abused their power. But people have had enough and are sending a ‘flood of sandals’ to demonstrate their disgust. Now, the police are on the back foot and the government is feeling the heat. If we can build a huge public petition to President Yudhoyono we could force him to rein in our police and initiate critical reforms.

We have to act fast and ramp up the pressure to make sure the system is overhauled and the abuses stop. Let's make A.A.L.'s the last case of police brutality against our kids. Click below to sign the urgent petition to SBY and then share this with family and friends! When we reach 50,000 signers we’ll deliver it directly to the President with a pair of sandals for each 1000 signers.

http://www.avaaz.org/en/indonesia_sandals_for_justice/?vl

The police are failing to provide even the most basic legal services. At the same time, officers overstepping the law get away with murder while citizens without money or influence face harsh punishment. But while A.A.L. has been released and the officers responsible for his mistreatment got a token slap on the wrists, more and more reports of disproportionate police behaviour are surfacing.

There's no civilian bureaucrat at its head, and the National Police Commission lacks the powers to deal effectively with police abuses. But President Yudhoyono is ultimately responsible for the police and he is said to be following recent developments. If we target him directly now he has the opportunity to respond to our outcry and start a meaningful reform process.

In early January, more than 100 pairs of sandals were delivered to the police headquarters in Jakarta, embarrassing our law-enforcers in front of national and international media. And police chief Pradopo is due to be questioned in parliament next week over the excessive use of force in the handling of recent demonstrations and clashes. We need to show the President and the police that this is not a flash in the pan public protest. Click to below to build a massive petition for urgent police reform and send this to everyone:

http://www.avaaz.org/en/indonesia_sandals_for_justice/?vl

From pressing for the release of political prisoners in Burma to stopping the illegal eviction of the Occupy movement, citizens across the world working together have fought injustices -- and won! Now it's in our hands to stop Indonesian police abuse -- if we unite now our voices will be heard and we can prevent more violence.

With hope,

Alice, Antonia, Morgan, Ricken, Caroline, Pascal and the entire Avaaz-team

More information:

Indonesia outrage at boy's conviction for sandal theft (BBC)
http://www.bbc.co.uk/news/world-asia-16415716

Indonesia's uneven justice system (Global Post)
http://www.globalpost.com/dispatch/news/regions/asia-pacific/indonesia/120106/indonesia-justice-system-flip-flop-protest

Sandals and Solidarity: Why Indonesians Are Using Flip-flops as Symbols of Protest (Time)
http://globalspin.blogs.time.com/2012/01/06/sandals-and-solidarity-why-indonesians-are-using-flip-flops-as-symbols-of-protest/

Indonesian Sandal Case Fuels Juvenile Court Push (The Jakarta Globe)
http://www.thejakartaglobe.com/politics/indonesian-sandal-case-fuels-juvenile-court-push/489642

DPR's Commission III summons police chief (Kompas.com, in Bahasa Indonesia)
http://nasional.kompas.com/read/2012/01/10/18292383/Komisi.III.DPR.Panggil.Kapolri

Untuk kawan-kawan di seluruh Indonesia.


Polri secara brutal melakukan penyalahgunaan kekuasaannya dan gagal memberikan pelayanan dasar pada warga negara Indonesia. 'Kasus sandal' AAL telah adalah bukti, dan sekaligus pemicu munculnya kepedulian publik pada dunia hukum. Bila kita bisa melayangkan protest atas hal ini, maka reformasi Polri akan bisa cepat terlaksana. Tanda tangani petisi untuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sekarang, agar polisi tetap bisa diawasi dan dikendalikan:
Sejak polisi di Palu secara brutal menuntut ALL dengan kasus sandal, dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara, seluruh warga negara memilih untuk melawan. Jika kita bisa menggalang tekanan publik saat ini, maka kita bisa mengakhiri prilaku kesewenang-wenangan kekuasaan semacam ini.

Ini adalah kasus terbaru, setelah rangkaian kasus-kasus sebelumnya dari Aceh sampai Bima, dari Lampung sampai Cilacap. Semuanya melibatkan polisi yang secara sadar menggunakan kekuatannya, menerapkan hukum dengan semena-mena pada anak-anak dan orang biasa. Memang, masyarakat Indonesia yang peduli sudah membuat gerakan’banjir sandal‘ sebagai ekspresi perlawanan pada kasus itu. Sekarang, polisi dalam tekanan dan pemerintah pun merasakan dampaknya. Jika kita dapat membangun sebuah petisi publik yang merepresentasi banyak orang kepada Presiden Yudhoyono, kita bisa memaksa SBY untuk mengendalikan polisi dan memulai dilakukannya reformasi hal-hal yang kritis dan penting.

Kita harus bergerak cepat dan memperbesar tekanan untuk memastikan sistem keliru dan penyalahgunaan kewenangan harus segera dihentikan. Mari menjadikan kasus AAL sebagai kasus terakhir pada anak-anak kita. Klik link di bawah ini untuk menandatangani petisi untuk Presiden SBY, lalu sebarluaskan pada keluarga dan teman-teman. Bila jumlah penandatanganan ini mencapai 50 ribu orang, maka kami akan mengirimkan petisi ini pada Presiden SBY, sekaligus mengirimkan satu pasang sandal pada Presiden SBY untuk setiap 1000 petisi.

http://www.avaaz.org/en/indonesia_sandals_for_justice/?vl

Seperti yang kita ketahui, polisi Indonesia telah gagal memenuhi pelayanan dasar hukum. Dalam waktu yang bersamaan, polisi dengan semena-mena bisa mengabaikan hukum dan lolos dari kasus pembunuhan, sementara warga masyarakat yang miskin dan tidak punya pengaruh, justru dihadapkan pada hukum yang keras. Itulah mengapa, meskipun AAL sudah bebas, dan polisi yang menuntut AAL sudah dipenjara misalnya, namun ribuan anak-anak tetap saja terancam akan masuk ke penjara karena kasus kriminal yang dituduhkan kepadanya. Dan berbagai laporan tentang perilaku polisi yang tidak proporsional terus bermunculan ke permukaan.

Tanpa adanya birokrat sipil yang menjadi atasan polisi, maka kasus-kasus yang melibatkan penyalahgunaan kekuasaan polisi, akan bisa dengan serta merta diabaikan oleh para pimpinan kepolisian. Maka, Presiden SBY harus bertanggungjawab atas hal ini. Presiden SBY juga dikatakan mengikuti perkembangan terakhir. Hal itu berarti, kita memiliki kesempatan untuk mendapatkan respon atas petisi yang akan kita kirim, menuntutnya meminta maaf pada AAL, dan memulai reformasi yang serius.

Lebih dari 100 pasang sandal sudah dikirim ke Mabes Polri di Jakarta. Hal itu adalah kritis paling pedas dan memalukan yang dimuat media nasional dan internasional. Dan sekarang, DPR RI akan memanggil Kapolri Timur Pradopo untuk mencari tahu penggunaan kekerasan berlebihan oleh polisi dalam demonstrasi hingga bentrok antara polisi dengan demonstran. Kita perlu menunjukkan kepada Presiden SBY dan polisi bahwa kita tetap mengawasi dan akan terus mengeluarkan protest pada hal-hal yang tidak sejalan dengan hukum dan keadilan. Mari bergabung dalam petisi untuk solidaritas pada AAL, dan untuk mendorong polisi lebih bertanggungjawab. Klik link di bawah ini untuk terlibat dalam pembuatan petisi untuk reformasi penting di tubuh polisi dan kirim ke semua orang:

http://www.avaaz.org/en/indonesia_sandals_for_justice/?vl

Dari gerakan untuk pembebasan tahanan polisi di Burma hingga penghentian pengusiran gerakan Occupy, warga di seluruh dunia kini bekerja bersama untuk melawan ketidakadilan, dan menang! Di tangan kitalah upaya penghentian kekerasan polisi Indonesia bisa dilakukan. Jika kita bersatu sekarang, maka suara kita akan didengar dan bisa mengakhiri kesewenang-wenangan polisi untuk semua orang.

Salam solidaritas,

Alice, Antonia, Morgan, Ricken, Caroline, Pascal dan seluruh tim Avaaz

Information lebih lanjut:

Solidaritas Seribu Sendal Buat Briptu Ahmad (Tempo)
http://www.tempo.co/read/news/2012/01/02/214374800/p-Solidaritas-Seribu-Sendal-Buat-Briptu-Ahmad

'Dihadiahi' 1.000 Sandal, Kapolri Tidak Tersinggung (Detik.com)
http://us.detiknews.com/read/2012/01/05/211157/1808048/10/dihadiahi-1000-sandal-kapolri-tidak-tersinggung

Presiden Ikuti Kasus Dugaan Pencurian Sandal Jepit (Kompas.com)
http://nasional.kompas.com/read/2012/01/04/12102915/Presiden.Ikuti.Kasus.Dugaan.Pencurian.Sandal.Jepit

Komisi III DPR Panggil Kapolri (Kompas.com)
http://nasional.kompas.com/read/2012/01/10/18292383/Komisi.III.DPR.Panggil.Kapolri

Sandal Jepit Baru untuk Briptu Rusdi (Kompas.com)
http://nasional.kompas.com/read/2012/01/11/11591163/Sandal.Jepit.Baru.untuk.Briptu.Rusdi


Support the Avaaz Community!
We're entirely funded by donations and receive no money from governments or corporations. Our dedicated team ensures even the smallest contributions go a long way.




Avaaz.org is a 10-million-person global campaign network
that works to ensure that the views and values of the world's people shape global decision-making. ("Avaaz" means "voice" or "song" in many languages.) Avaaz members live in every nation of the world; our team is spread across 13 countries on 4 continents and operates in 14 languages. Learn about some of Avaaz's biggest campaigns here, or follow us on Facebook or Twitter.

To contact Avaaz, please do not reply to this email. Instead, write to us at www.avaaz.org/en/contact or call us at +1-888-922-8229 (US).